Melihat Post-Power Syndrome…

2 04 2009

Semasa kuliah, pernah Q benar-benar dipusingkan dengan permasalahan nilai akademik sebagaimana mahasiswa lain pada umumnya. Nilai mata kuliahQ itu haruslah minimal ‘C’,sementara yang tertera dalam transkirp…hanyalah seonggok ‘E’, pun ketika melongok nilai mata kuliah wajib (tidak boleh diganti,hanya boleh diulang taun berikutnya) yang ‘E’ itu…justru semakin lengketlah kegalauan muncul ditengah insomnia yang msih betah saja Q idap.

Meski skripsi sudah siap “tanding”, mahasiswa tidak diperkenankan melaksanakan ujian skripsi…Mau tak mau harus Q uruslah nilai itu.

Cara memperoleh nilai itu dengan mengulang mata kuliah di taun berikutnya sepertinya sangat memberatkan, hingga Q pilih untuk menemui dosen yang dulu mengampu mata kuliah tersebut…Kini beliau sudah pensiun mengajar(tapi msh semangat tuk mendidik)..Pak Gandhi.

Silaturahmi ke kediaman beliau…

dan Q lihat Pak Gandhi tidak mengalami banyak perubahan secara fisik, dengan lapang beliau mempersilakan permasalahan yang sedang Q alami…Mengejutkan, reaksi beliau benar-benar ‘positif’…solusi yang beliau tawarkan benar-benar sesejuk oasis di padang gurun.

Hebatnya, pemikiran kritis beliau masih setajam ’silet’, karena Qta sempat berdiskusi juga saat itu…banyak hal yang dikritisi…Lebih banyak membahas pada ketidak-konsistennya pemerintah dalam melakukan kebijakan-kebijakan strategis di bidang pendidikan tinggi…

“..kebijakan saat ini tidak kena essensi..” ungkap beliau.

45 menit silaturahmi., ilmu yang didapat bisa jadi melebihi 2 sks selama 1 semester perkuliahan…Mungkin itu salah satu mutual time.

Materi bahasan yang diterima dari mutual time itu pastilah berharga.,namun kali ini Q lebih ingin mengCapture moment ini dari sudut pandang lain…

Kebanyakan dari kita telah mengalami berbagai rutinitas dan pekerjaan yang tentu saja melibatkan orang lain dalam komunitas tertentu. Dari komunitas itulah persepsi dan status sosial individu terbentuk (sadar/pun tidak). Bentuk perilaku individu dalam komunitas pun beragam sesuai dengan persepsi dan status yang mereka sandang. Hal ini jelas berpengaruh pada individu dalam komunitas sosial masyarakat untuk ‘memandang’ individu lain dan dirinya sendiri pada level-level tertentu.

Yang mungkin dapat menjadi masalah ialah ketika satu individu telah terbiasa menerima ekspektasi dan apresiasi dari komunitas sosialnya, terbiasa meletakkan dirinya pada suatu level tertentu, kemudian dalam proses dan fase tertentu komunitas sosial masyarakat mengalami perubahan serta-merta ‘memaksa’ individu ini keluar dari rutinitas, post-power syndrome bisa saja muncul.!!!

post power syndrome

Post-power syndrome, adalah gejala yang terjadi di mana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya, ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Misalnya, penderita selalu ingin mengungkapkan betapa dia begitu bangga akan masa lalu yang dilalui dengan jerih payah luar biasa (menurutnya).

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya post-power syndrome. Pensiun dini dan PHK adalah salah satu dari faktor tersebut. Bila orang yang mendapatkan pensiun dini tidak bisa menerima keadaan bahwa tenaganya sudah tidak dipakai lagi, walaupun menurutnya dirinya masih bisa memberi kontribusi yang signifikan kepada perusahaan, post-power syndrome akan dengan mudah menyerang. Apalagi bila ternyata usianya sudah termasuk usia kurang produktif dan ditolak ketika melamar di perusahaan lain, post-power syndrome yang menyerang akan semakin parah.

Gejala post-power syndrome:

  1. Gejajala fisik, misalnya menjadi jauh lebih cepat tua tampaknya dibandingkan waktu dia menjabat. Rambut semakin banyak beruban, keriput, sakit-sakitan, dan menjadi lemah.
  2. Gejala emosi, misalnya cepat teringgung, merasa tidak berharga, menarik diri dari pergaulan,dsb.
  3. Gejala perilaku, misalnya malu bertemu orang lain, lebih mudah melakukan pola-pola kekerasan atau menunjukkan kemarahan.

Ciri-ciri orang yang rentan menderita post-power syndrome:

  1. Orang yang terlalu senang dihargai dan dihormati orang lain, permintaanya senantiasa terlaksana/dituruti, suka dilayani.
  2. Orang yang membutuhkan pengakuan dari orang lain karena kurangnya harga diri, dengan jabatan dia lebih merasa diakui orang lain.
  3. Orang yang meletakkan arti hidupnya pada prestise jabatan dan pada kemampuan mengatur orang lain, untuk dapat berkuasa atas orang lain.

Post-power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia dan pensiun dari pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang berhasil melalui fase ini dengan cepat dan dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, dimana seseorang tidak mampu menerima kenyataan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang terus mendesak, dan dirinya adalah satu-satunya penopang hidup keluarga, resiko terjadinya post-power syndrome yang berat semakin besar.

Beberapa kasus post-power syndrome yang berat diikuti oleh gangguan jiwa seperti tidak bisa berpikir rasional dalam jangka waktu tertentu, depresi yang berat, atau pada pribadi-pribadi introfert (tertutup) terjadi psikosomatik (sakit yang disebabkan beban emosi yang tidak tersalurkan) yang parah.

Post-power syndrome dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Kematangan emosi dan kehangatan keluarga sangat membantu untuk melewati fase ini. Dan satu cara untuk mempersiapkan diri menghadapi post-power syndrome adalah gemar menabung dan hidup sederhana. Karena bila post-power syndrome menyerang, sementara penderita sudah terbiasa hidup mewah, akibatnya akan lebih parah.

Yang pernah Q lihat dalam hal ini ialah seseorang yang telah mampu menaklukan fase Post-Power Syndrome jauh menjadi lebih bijaksana dan mampu membuktikan kebermanfaatan atas eksistensinya.

Salut.

NB: Melalui Pak Gandhi, Q bisa ujian skripsi